Tuesday, September 19, 2006

MUTIARA BULAN INI

Cinta bukan hanya saling memandang tapi menatap satu tujuan yang sama


WONG BIJAK
(Diambil dari buku SEJENAK BIJAK)

*****Ketika Matahari Terbenam di Timur*******

Pukul 01.00 dini hari, seorang pemuda yang tampak teler karena mabuk berat keluar dari “Diskotek Gebyar” dengan digandeng dan dirangkul oleh dua orang temannya. Bagi manusia-manusia malam, sebetulnya pukul 01.00 merupakan saat-saat yang paling mengasyikkan, menikmati puncak acara hentak-hentak kaki di diskotek tersebut. Namun, karena Rudi sudah mabuk berat, terpaksa kedua pemuda tadi meninggalkan diskotek lebih awal untuk membantu sobat kental mereka itu keluar dari diskotek.
Semula mereka berniat membawa Rudi ke tepi pantai dengan harapan bahwa angin laut yang dingin dapat membuatnya siuman dari mabuk beratnya. Akan tetapi kemudian mereka memutar arah mobilnya ke sebuah hotel terdekat.
Kepada resepsionis yang mulai terkantuk-kantuk mereka memesans sebuah kamar yang jendelanya menghadap ke timur untuk Rudi. Setelah membayar deposit kedua pemuda itu berpesan kepada resepsionis supaya membangunkan Rudi sekitar pukul 08.00 pagi, seraya memberikan nomor HP mereka, kalau-kalau mereka perlu dihubungi jika ada keadaan darurat.
Setelah beberapa saat Rudi tertidur cukup lelap. Akhirnya sekitar pukul 05.00 pagi lebih sedikit, dia terbangun. Dengan rasa kantuk yang masih menggelayuti matanya dan kepala yang masih terasa agak berat, dia tertatih-tatih berjalan menuju jendela dan secara refleks dia menyingkap gorden jendela tersebut. Sesaat dia sempat tertegun.... di kejauhan tampak bulatan berwarna orange kemereahan sedikit di atas garis cakrawala.
“Ohhh.... matahari hampir terbenam,” gumamnya.
“Lebih baik aku tidur lagi,” lanjutnya sambil menguap, dan menutup gorden. Dia segera balik...., berjalan perlahan-lahan menuju ranjang dan ... tertidur lagi. =============================
Saudara...., pernahkah ada matahari yang terbenam di timur? Tidak ada kan? Apa yang dilihat Rudi sebetulnya adalah momen matahari terbit karena dia berdiri di balik jendela yang menghadap ke timur.
Dalam kehidupan kita, rasanya sesekali kita pernah mengalami hal-hal yang demikian. Ketika kita sedang ‘mabuk’ terutama mabuk kekalahan, mabuk kesedihan atau mabuk kegagalan, kita sering membiarkan diri kita terbenam berkelanjutan; kita ingin tidur berkepanjangan untuk melupakan kesedihan kita. Padahal indera kita, fisik kita, sudah siap menyongsong fajar hari esok yang lebih cerah. Namun, kita sering kalah oleh kantuk batin yang berkepanjangan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home